
Rindu juga dengan kegiatan militan kesenian kampus yang dulu selalu kugeluti. Bahkan lebih dari itu, sepertinya, masa kuliahku hanya kuhabiskan didunia kesenian. Ya kesenian kampus yang bahkan sebelum masuk kuliah memang sudah lama kuidam-idamkan. Tujuan awalnya sih Cuma mau dapatkan fasilitas studio musik gratis. Bangkrut rasanya kalau hobi yang satu ini mau kuladeni terus. Alat-alatnya mahal bo! Jadilah, UKM Seni sebagai cita-cita awalku berkarir sebagai Mahasiswa. Kebetulan lulus Universitas Negeri Makassar setelah melalui ujian SPMB yang melelahkan. Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan. Maka bertemulah harapan dan kenyataan yang sering disebut rejeki, dan ketemulah UKM Seni dengan UNM yang kalo disambung namanya UKM Seni UNM
Dari hobi main gitar, mungkin karena alam, jadilah berbagai alat musik pernah bersatu ditangan saya diatas pentas. Mulai dari Gitar, Keyboard, bass, Gendang, Jimbe, biola bahkan sampai kecapi pun selalu menemaniku mengiringi apa yang bisa diiring. Macam macam pokoknya. Dari pementasan Band, Musik tradisi, teater, tari, gandrang bulo, dan yang paling sering mengiringi tari pa’duppa di berbagai hajatan kawinan. Dari hobi bermain gitar, mulailah saya meniti karir kemahasiswaan dilembaga tingkat Universitas, jadi aktivis mahasiswa istilah kerennya. Mulai dari anggota baru, pengurus biasa terus naik memimpin UKM Seni UNM satu periode dan naik lagi ke lembaga kemahasiswaan paling tinggi Universitas yaitu Maperwa. Dari sekedar main-main gitar itulah saya mempunyai banyak sahabat-sahabat dan dari main gitar itu juga mungkin sampai sekarang, perjuangan untuk selesai di Kampusku terasa sangat berat. Aktivis… aktivis.. mungkin sudah jadi konsekuensinya kali harus menderita di urusan akademik. Hiks..hiks..
Sebuah rumah “cinta” yang bernama Salassa. Salassa dalam bahasa bugis berarti tempat berkumpul adalah sekertariat UKM Seni UNM. Banyak cerita, banyak kisah banyak hal-hal “gila” yang terjadi disini. Seperti berada di atas rollercoaster, melaju cepat dalam debaran jantung yang berdetak keras, sungguh sebuah pengalaman luar biasa bisa bergelut di dunia ini. Bisa bergabung dengan orang-orang kreatif imaginative dan temperamental. Macam-macam sudah jenis orang yang kukenal dari sini. Sungguh Mahabesar Allah menciptakan makhluk bernama manusia dengan rasa, karya dan karsa yang berbeda-beda dan unik. Subhanallah, kalau orang-orang ini saja bisa membuatku tercengang, bagaimana seandainya saya sezaman dan berkawan dengan Ludwig bethoven? Atau dengan shakespears, atau dengan Yngwie, steve vai atau slash saja. Atau jangan jauh-jauh,bagaimana dengan Ahmad dhani, Piyu, atau Melly guslow sajalah. Makan apa yah mereka?? Apakah saya kekurangan gizi sehingga kalah imaginative dengan mereka. ???
Memasuki Tahun ke tujuh sebagai mahasiswa, semakin mendebarkan karena sebentar lagi, ancaman DO didepan mata. Kalau tak selesai tahun depan, riwayat Kemahasiswaanku di UNM berakhir dengan Drop out. Tragis sekali ujung karirku.
Melalui irama musik dari seorang teman bernama bhenda’, kutau bahwa music tak sesederhana dari penampilannya. Begitu rumit dan syahdu. Begitu dalam dan mempesona. Tidak sekedar ngejreng kiri kanan seperti para pengamen-pengamen rese’ di pantai losari itu. Enak saja dia main gitar suka-suka sambil memaksa pendengarnya memberikan uang. Dari gerak tari temanku Indi dan rara kusimpulkan sendiri; gerak bukan sekedar gerak, harus bermakna dan bercerita. Dari orang seperti Dewa, dirga, hamzan, dodi, liel, aril dan makhluk manisnya UKM Seni UNM lainnya, kusadari kalau hidup apa adanya adalah sebuah anugrah, berjalan ringan-ringan sajalah. “Anugra” juga bisa diartikan anu gratis, lucu, namun kukira itu relevan dengan karakternya masing-masing. Easy going, going where the wind blows kata Mr.Big. cerita-ceritaku dengan geng-geng ini tidak pernah habis-habis, mulai dari kebiasaan tidur sampai cerita warung coto lengkap semuanya. dari senior-seniorku seperti K’roni, K’jodi, k’mail, k’once, k’ian dan beberapa lagi lainnya, kutau hidup adalah perjuangan, begitu rumit, begitu kompleks, begitu perlu hitung-hitungan yang matang. Dari temanku erik dan fadlita, kutau bahwa bahkan kodrat dari Allahpun bisa dimanipulasi dengan kecenderungan transgender yang kalau di Indonesia masih sangat tabu, apalagi di Makassar. Apapun bisa dilogikakan memang.
Salassa’ ku tercinta, entah dengan apa saya harus berterima kasih kepadamu. Dari sekedar main gitar, dari ajakan tetanggaku nono bergabung kesini, jadilah namaku tercatat sebagai anggotamu. Sekarangpun, namaku tercatat sebagai Pembina. Wow, Pembina. mengesankan ketua-an. Dari umur dan angkatan, yo, tidak apa-apalah. Semoga UKM Seni UNM ku bisa selalu menghasilkan produk-produk kesenian yang berkualitas. Tidak sekedar ajang hura-hura komunitas kesenian mahasiswa Makassar dan Indonesia yang sering menjuluki diri sendiri sebagai organisasi yang ter! Ter apa saja, dalam segala hal. Bangga dibilang yang ter-“gila”. Padahal, di komunitas lainnya pun tak kalah egoisnya sama-sama mau berpredikat yang ter! Yah, atur-atur sajalah, kata duta “kesombongan dimasa muda yang indah”. (sahabat sejati,SO7). Saya tak mau pusing dengan predikat semu itu. Tidak ngaruh buat saya!
Hohoho… mau perdalam belajar biola ah…
20 Juni 2009
Nurkhalis R